Posts

Inginkan Kenangan

Malas mengemaskini liku kisah jam berlalu menyembunyikannya di balik langsir lusuh yang belum tentu memulangkan yang berlalu jam bergerak sendiri meski rajin di kamar kini menjadi dingin dan sunyi Sering terjadi pengalaman tak terduga tiba-tiba inginkan kenangan di luar kebiasaan

Di atas Lorong yang Terpandu

Kami bercerita tanpa apa apa kedengaran melihat jelita yang jernih bertandangan membuka jalan jalan malam yang lumrah juga pintu pintu yang sesekali terbuka ada jambatan menghubung dunia dunia berbeza ada lautan yang terbiar ada langit yang hening ada udara yang tercalar Kami di daerah yang kusam menjahit liku luka yang bungkam di atas lorong yang terpandu kelam yang jernih liku yang membumi hening yang mempesona

Yang Hanya Kata dan Maknanya

yang hanya kata dan maknanya, aksara yang diam dalam letih apakah utuhnya seperti ungkapan-ungkapan yang teruji zaman? Memandang bisu cermin tetap terpantul wajah yang sama dan dunianya yang serupa seperti juga dinding-dinding yang menyapa dalam sepinya dan ungkapan bagaimanakah selain mengulangi bahasa sunyi? kucari dirimu dalam makna yang rahsia

Hening Muhasabah

hening memandang cahaya yang membawa hala benar membawa khabar baik kepada insan dari segala aksara yang bermakna sayangnya insan itu kerdil sering didakap alpa, dibuai cuai disanjung takluk hati yang mati, kini memandang bagai belukar atau pohon tua jauh di belantara bukan sebuah kota yang pernah membesarkan kerdil mendewasakan usia yang meletak aksara, garis lukis bahkan tegur tegar di medium akal meletak ukir fikir bagai khazanah bangsa kini terkasima dalam harap pulang mengalun hening muhasabah kembali menulis makna sarat hayat

Siluet Laut

Angkasa itu juga mendengar nazamnya sapa yang tak terbongkar ragam bungkam yang kesasar halkum dihijab jilbab dibius bisu berbalam dibawa awan sore bagai berarak meliputi damai bulan yang lena dibuai aksara gelap di anjung suara kian bersauh jauh dipacu hening ke dasar halkum lautmenelan degup

Dunia Luka

Luka itu tak akan memberimu isyarat bilakah ia bersuara melainkan nikmat cuma ketika diam membuka takjub hening Kau hanya memandang riang burung waktu pagi entah apakah pulangnya seperti saat itu Perjalanan ini terlalu biasa untuk diuji awalnya sehingga kau mengenal bila bulan mengambang dan mentari dilitupi mendung Kita adalah dunia kecil tak mungkin terbanding dunia di dalam diri yang selalu menguja hanya Dialah yang lebih sempurna

Sinar Sirna

Memandangmu berlalu setiap kuhela nafas tanpa suara menyapa menjadi biasa seperti kapal-kapal yang belayar di hadapan pelabuhan, tak mungkin terjadi sesuatu yang dirasakan kini jauh di belakang, tak terjadi juga untuk kembali ke sana negeri kenangan, diam di sini memandang lampu hayat yang akan tiba saat berangkat diam damai dalam pelayaran jauh di lautan abadi lampu itu bersinar sirna