Di atas Lorong yang Terpandu

Kami bercerita
tanpa apa apa kedengaran
melihat jelita yang jernih bertandangan
membuka jalan jalan malam yang lumrah
juga pintu pintu yang sesekali terbuka
ada jambatan menghubung dunia dunia berbeza
ada lautan yang terbiar
ada langit yang hening
ada udara yang tercalar

Kami di daerah yang kusam
menjahit liku luka yang bungkam
di atas lorong yang terpandu
kelam yang jernih
liku yang membumi
hening yang mempesona

Reader Comments



Kemala berkata:

Keahliannya ialah dalam epik dan sejarah, namun suaranya juga mulai mendekam pada yang Islami. Sejak kapan dia berubah? Agaknya selepas dia faham makna cinta sejati. Api cintalah yang bernyala di mata Umar al-Farid dan Iqbal, tapi cinta dan cinta saja tak bererti andainya tidak dicantas duri dan ranja yang menutup kebenaran. Apakah bezanya temaram bulan di langit dan bayangan bulan di danau? Saya pernah megnasuhnya dulu, mungkin kini dia sudah melalui denainya bersendirian...

[Tanggapan Sekilas - Zikir-Groups 2003]!

Blogger Templates by Blog Forum

Daftar Puisi